Luwu Timur, Sulsel— Langit pagi di Luwu Timur tampak cerah ketika Prima Eyza Purnama melangkahkan kaki ke halaman SMPN 1 Towuti. Hari itu, Selasa, 6 Mei 2025, ia memulai rangkaian kunjungan kerjanya ke sejumlah sekolah di Kecamatan Towuti dan Nuha. Bukan kunjungan biasa, melainkan sebuah bentuk kepedulian nyata terhadap dunia pendidikan di tengah pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah (UAS) Tahun Pelajaran 2024/2025.

Sebagai anggota DPRD Luwu Timur dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Prima tak hanya hadir untuk memantau. Ia ingin merasakan denyut semangat para siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP yang tengah menempuh hari-hari penting dalam perjalanan pendidikan mereka. Selama dua hari berturut-turut, ia menyambangi empat sekolah: SMPN 1 Towuti, SMPN 1 Nuha, SMPN 3 Towuti, dan SDN 281 Mahalona.

Di setiap ruang ujian yang dikunjunginya, ia menyaksikan pemandangan yang berbeda dari masa-masa lalu. Para siswa kini tak lagi berkutat dengan lembaran kertas, melainkan fokus menatap layar perangkat Android di hadapan mereka. Ujian berbasis digital telah menjadi wajah baru dari sistem evaluasi pendidikan di Luwu Timur.

“Saya sangat mengapresiasi dedikasi seluruh majelis guru yang telah mendampingi dan membimbing siswa selama masa bersekolah anak didik. Ketekunan dan kerja keras para pendidik ini merupakan pondasi penting bagi masa depan generasi muda kita,” ujar Prima dengan mata yang tak lepas dari aktivitas para siswa.

Kunjungannya bukan sekadar seremonial. Di sela-sela percakapan hangat dengan guru dan kepala sekolah, ia mencatat hal-hal penting: kesiapan teknis, mental siswa, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran. Ia percaya, langkah-langkah seperti ini menunjukkan bahwa adaptasi digital dalam pendidikan bukan lagi sekadar wacana.

Lebih jauh, ia menyampaikan harapannya agar apa yang diperoleh para siswa selama bersekolah tidak hanya menjadi bekal untuk lulus ujian. Lebih dari itu, ilmu pengetahuan harus menjadi kompas yang membimbing mereka menatap masa depan.

“Ilmu yang diperoleh para siswa tidak hanya menjadi bekal akademis semata, tetapi juga menjadi pijakan kuat dalam meraih cita-cita dan menghadapi masa depan dengan optimisme,” katanya.

Namun, Prima juga menyadari bahwa kemajuan pendidikan tidak bisa bergantung pada teknologi semata. Ia menyoroti pentingnya penguatan sarana dan prasarana penunjang proses belajar-mengajar. Dana BOS, menurutnya, perlu dioptimalkan dengan baik agar kualitas lingkungan belajar bisa terus ditingkatkan.

“Sebagai wakil rakyat, saya berkomitmen untuk terus mendukung dan bersinergi dengan semua pemangku kepentingan guna memajukan pendidikan di Luwu Timur. Masa depan daerah kita sangat bergantung pada kualitas pendidikan hari ini,” tegasnya, penuh keyakinan.

Kunjungan ini berakhir di SDN 281 Mahalona, sebuah sekolah yang tak kalah semangatnya dalam menghadirkan pengalaman belajar terbaik bagi anak-anaknya. Di sana, Prima kembali menebar semangat, menyerap aspirasi, dan menegaskan kembali komitmen bahwa pendidikan adalah prioritas.

Bagi Prima Eyza, dua hari keliling sekolah bukan sekadar agenda dinas. Itu adalah perjalanan kecil yang menyimpan harapan besar—untuk anak-anak Luwu Timur yang cerdas, tangguh, dan siap bersaing di masa depan.